Virus Corona, SARS dan Ebola, Mana yang Lebih Berbahaya?

Awal dekade baru, dunia sedang dihebohkan dengan salah satu virus baru yang pertama kali ditemukan dan menyebar di Wuhan, China. Sampai saat ini, sudah lebih dari 14 negara yang terdeteksi virus corona. Bersumber dari data Worldometers per 29 , virus corona sudah menyebar ke 198 negara dengan total kasus yang terkonfirmasi adalah 467.520 orang, total pasien meninggal adalah 21.174 orang dan total recovered sebanyak 113.808 orang.

Negara-negara yang telah terkonfirmasi adanya virus korona selain China adalah Singapura, Jepang, Filipina, Hong Kong, Thailand, Australia, Taiwan, Malaysia, Kamboja, Jerman, Vietnam, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Inggris, Iran, Rusia, Sri Lanka, Mesir dan juga Indonesia.

Terkait dengan penyebaran virus ini, organisasi kesehatan dunia, WHO, telah mengumumkan secara resmi nama virus jenis baru yang serumpun dengan SARS dan Ebola ini, yaitu COVID-19 (Corona Virus Disease 2019).

Penyebaran yang cepat dan menyeluruh ke berbagai dunia, apakah virus corona bisa dibilang virus yang berbahaya? Simak uraian berikut.

Manakah Yang Lebih Berbahaya Virus Corona, SARS, atau Ebola?

Virus Corona merupakan wabah baru yang pertama kali ditemukan dari pasar seafood dan hewan liar di daerah Wuhan, China. Sebagian besar orang yang terinfeksi virus ini melaporkan gejala yang diderita pasien adalah demam, sesak napas, dan batuk. Pasien yang terinfeksi corona virus akan menderita penyakit pernapasan dari ringan hingga berat. Gejala tersebut dapat muncul 2 sampai 14 hari setelah seseorang terinfeksi virus corona. Mari kita bandingkan dengan SARS dan Ebola.

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) adalah infeksi saluran pernapasan kategori berat yang disertai dengan gejala saluran pernapasan. Gejala yang ditimbulkan apabila seseorang terinfeksi SARS adalah demam, batuk, kesulitan bernapas, hingga diare. SARS menular melalui kontak dekat, misalnya dalam satu rumah atau ruangan dengan pasien dan kontak langsung dengan cairan tubuh dari pasien. Diduga cara penyebaran virus ini adalah karena percikan dan benda-benda yang terkontaminasi virus ini.

Sementara itu, Ebola adalah sebuah virus yang terdapat pada tubuh hewan kemudian menular ke manusia melalui darah hewan yang sudah terjangkit virus ini. Pertama kali, virus ini ditemukan di Afrika pada tahun 1976. Gejala yang ditimbulkan adalah demam, menggigil, lemah, mual dan muntah, nyeri kepala yang berat, mata merah, ruam pada kulit, pendarahan dari mata, hidung, telinga, hingga anus. Virus ini berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Jika kita bandingkan ketiga virus tersebut, tentu terdapat kesamaan dan perbedaan. Virus corona dan SARS memiliki kesamaan, diduga karena berasal dari hewan dan menular dari manusia ke manusia dengan cara yang sama. Pada tahun 2002, SARS yang juga ditemukan di China menginfeksi sekitar 8000 orang lebih dan membunuh sekitar 800 orang di penjuru dunia.

Masih terlalu dini untuk menyimpulkan seberapa parah virus corona menular. Meskipun virus tersebut mengancam kesehatan masyarakat secara serius namun tidak se-mematikan virus lain seperti MIDDLE East Respiratory Syndrome (MERS) yang muncul pertama kali tahun 2012 di Arab Saudi. MERS telah menginfeksi ribuan orang di lebih dari 26 negara dan sekitar kurang lebih 35% meninggal karena terinfeksi MERS. Virus Corona juga diyakini tidak se-mematikan virus Ebola yang dapat menular hanya dengan kontak langsung dan darah orang yang terinfeksi hingga cairan tubuh.

Jika dilihat dari tingkat fatalitas dan kematian dibandingkan virus lain, virus corona tergolong virus dengan tingkat fatalitas yang rendah dibanding SARS dan Ebola. Virus corona memiliki tingkat fatalitas 2,20% sedikit lebih tinggi dari virus H1N1 flu burung, namun lebih rendah dibanding virus SARS dan Ebola.

Virus SARS memiliki tingkat fatalitas 9,60% dengan jumlah kasus 8096 dan tingkat kematian 774 orang dan berdampak pada 29 negara pada tahun 2002 lalu. Sedangkan Ebola memiliki tingkat fatalitas 40,40% dengan jumlah kasus 33.577 dan tingkat kematian yang tinggi sekitar 13.562 pasien.

Masih banyak virus-virus lain yang memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi dibanding virus corona. Marberg adalah virus dengan tingkat fatalitas tertinggi di atas Ebola yang mencapai 80%, virus Nipah yang terjadi pada tahun 2018 di beberapa negara Asia dengan tingkat fatalitas 77,6%, dan MERS dengan tingkat fatalitas 34,40%.

Virus corona tampaknya memang bukan virus yang membuat fatal dan gejalanya pun kurang lebih sama seperti flu biasa, tidak lebih berbahaya dibanding SARS dan Ebola. Sampai saat ini, Ebola masih menjadi virus paling berbahaya diantara ketiga virus tersebut.

Namun, tetap saja virus corona menyebar di seluruh dunia dan wajib menjadi perhatian bersama untuk menjaga kesehatan dan peka terhadap gejala-gejala yang menjangkit dengan memeriksakan diri lebih dini ke Rumah Sakit terdekat.

Sebenarnya, untuk menjaga diri dari serangan virus bisa dimulai dengan langkah sederhana seperti mencuci tangan menggunakan air dan sabun. Namun, jika berpergian atau sedang berada di tempat yang sulit untuk mendapatkan air maka bisa menggunakan Antis Hand Sanitizer yang sudah terbukti ampuh membunuh kuman dan bakteri.

Email Print